Saya merenungkan kelahiran Aceh Film Festival 2025 dari sebuah ironi yang kuat: ia hadir di sebuah provinsi tanpa satu pun bioskop komersial. Ganjil? Tentu. Tapi di situlah, saya kira, siasat cerdasnya bermain. Ketika layar lebar tak ada, saya menyaksikan bagaimana layar-layar itu berpindah ke aula perpustakaan, balai desa, hingga lapangan gampong. Bagi saya, inilah inti dari tema besar AFF 2025 yang mereka usung: Stratagem. Sebuah manifestasi akal sehat ketika berhadapan dengan situasi serba terbatas.

Aceh Film Festival 2025: Stratagem di Negeri Tanpa Bioskop

Yang paling menarik perhatian saya adalah program Gampong Film. Di sana, film seolah kembali ke akarnya sebagai sebuah tontonan komunal. Tikar digelar, layar dibentang, proyektor dinyalakan. Warga menonton ramai-ramai di bawah langit terbuka. Pengalaman ini mungkin jauh dari kemewahan, tapi terasa begitu otentik. Film bertransformasi dari konsumsi personal yang sunyi menjadi sebuah perayaan bersama.

Kebebasan dari Ketiadaan

Sebuah hal yang luar biasa, di tengah keterbatasan infrastruktur, festival ini justru dibanjiri partisipasi global. Saya membaca ada lebih dari 3.000 film dari 120 negara yang masuk. Dari Banda Aceh, Festival Film Aceh 2025 yang akan berlangsung pada 2-6 September ini menyambungkan percakapan sinema dunia hingga ke kampung-kampung. Saya melihat bagaimana ketiadaan bioskop komersial dan tekanan box office malah menjadi berkah: sebuah kebebasan. Kurasi festival ini terlihat lebih berani, fokus sepenuhnya pada nilai seni, isu kemanusiaan, dan gagasan yang menantang.

Tema “Stratagem” ini, bagi saya, menjadi cermin festivalnya sendiri sekaligus menjadi napas dari film-film yang berkompetisi. Di layar, penonton akan menyaksikan kisah-kisah tentang karakter yang mencari jalan di tengah tekanan, orang-orang kecil yang melawan aturan mencekik, atau sebuah komunitas yang berjuang mencari celah untuk hidup wajar. Aceh Film Festival Stratagem adalah tentang siasat di dalam film, sekaligus siasat para penggagasnya dari komunitas Aceh Dokumenter, di bawah arahan Jamaluddin Phonna, untuk menghidupkan ekosistem film di tanah yang dianggap tandus.

Suara dari Pinggiran untuk Dunia

Orang sering melabeli kita “pinggiran”. Baiklah, saya pikir label itu bisa kita terima dan mainkan dengan cerdas. Festival Film Internasional Aceh 2025 membuka pintu seluas-luasnya, mengundang dunia untuk datang, lalu dari sinilah panggungnya diatur. Ini cara saya melihat bagaimana lensa bisa dibalik; sebuah upaya untuk bicara setara tanpa harus meminta izin dari “pusat”.

Setiap festival besar di dunia lahir dari luka. Venesia dari era fasis, Berlin dari Perang Dingin, Sundance dari perlawanan terhadap Hollywood. Aceh? Festival ini, saya rasa, dibangun dari puing-puing konflik dan tsunami. Saya melihat ada kebutuhan mendesak akan ruang dialog yang waras dan panggung ekspresi yang aman. AFF 2025 tampak seperti jawaban sederhana atas kebutuhan itu.

Saya melihat ini tecermin dari pemutaran dokumenter No Other Land tentang perampasan tanah di Palestina. Ketika film ini diputar di Banda Aceh—kota yang sangat memahami arti kehilangan—ia bukan lagi sekadar isu global. Bagi saya, ini adalah wujud solidaritas tulus dari satu “pinggiran” ke “pinggiran” lainnya. Begitu pula dengan program Aflamu, yang menampilkan wajah Islam yang beragam dan rumit, dengan memposisikannya sebagai tuan rumah percakapan, bukan sebagai objek tontonan.

Benih yang Tertinggal dan Pelajaran Berharga

Apakah tema-tema ini “berat”? Saya kira tidak. Ini adalah bahasa kita sehari-hari: hak untuk hidup, harga diri, dan ruang aman. Film hanya membantu kita menyuarakannya tanpa perlu berteriak. Saya percaya publik Aceh sangat memahami bahasa ini; pengalaman pahit telah mengajari kita untuk membaca pesan secara perlahan, bukan mendebatnya dengan kusut.

Lalu, apa yang tersisa setelah festival berakhir? Layar akan digulung, aula kembali sepi. Namun, saya percaya benihnya telah tersebar. Anak-anak di gampong telah melihat jendela dunia yang lebih luas, dan komunitas film daerah kian percaya diri.

Saya jadi berpikir, kita tidak perlu menunggu bioskop datang untuk menyelamatkan kita. Kitalah yang harus menyelamatkan pengalaman menonton itu sendiri. Pelan-pelan, konsisten, dan terus menggunakan akal sehat. Itulah Stratagem yang diajarkan oleh Aceh Film Festival.

BACA JUGA:  Penyanyi Aceh: Canggung atau Tidak Berbakat?