Foto di Bawah Spanduk
Sebuah pertemuan seni dimulai dengan kopi, rapa’i, dan janji jalan baru. Menjelang magrib, satu foto membuat semua orang di ruangan itu tampak telah memilih jalan yang sama.
Sebuah pertemuan seni dimulai dengan kopi, rapa’i, dan janji jalan baru. Menjelang magrib, satu foto membuat semua orang di ruangan itu tampak telah memilih jalan yang sama.
Tiga orang penari. Satu sanggar bocor. Satu map hijau baru. Proposal menentukan siapa yang boleh menari.
Bang Saman menurunkan rapa’inya. Belum ada yang bertanya apakah talinya sudah putus. Belum ada yang bertanya apakah muridnya masih ada. Belum ada yang bertanya apakah ia punya ongkos pulang.
Logika mati di kaki penguasa. Kisah Tabib yang rela menukar akal sehat demi membela kebodohan Anak Raja.
Kamilah rakyat yang tersekat, terjerat, melarat, selalu dalam sekarat, dan selalu saja terbuai-buai dalam decak indah manis bual-bualmu, wahai Tuan-Tuan Pembual.
Sibuk sekali aku menghitung-hitung diri! Benarlah firman-Mu ya Allah, hitung-hitunglah dirimu, sebelum engkau Ku-perhitungkan.
Kuarungi lautan puing kehancuran sebuah peradaban, menyisir lautan mayat yang bertebaran, tumpang tindih, tersangkut-sangkut, terhimpit-himpit di antara sampah dan reruntuhan, untuk menujumu Cot Lamkuweuh.
“Untuk pengobat penyakitku, selama ini tiap pagi aku minum air kencingku sendiri,” ujar Sang Presiden tiba-tiba.
Agaknya penduduk kota saya telah kehilangan sesuatu yang entah apa, yang pernah jadi miliknya, yang paling dicintainya.
Maka, ketika ada tawaran kerja dari sebuah tempat hebat yang peduli hajat hidup orang banyak di kampungku, cepat-cepat peluang itu kusosor dengan suka cita.