Subuh itu, saat banjir Aceh November 2025, air masuk tanpa mengetuk pintu. Orang-orang menyelamatkan ijazah dan pakaian anak, sementara kasur mengapung seperti perahu tanpa nakhoda.

Banjir Aceh November 2025

Di jalan lintas, warga menunggu evakuasi. Yang lewat bukan kendaraan penyelamat, justru armada truk sawit.

Di televisi, naskahnya rapi: “cuaca ekstrem”, “curah hujan tinggi”, “bencana hidrometeorologi”. Di obrolan sehari-hari, dialognya lebih pendek: “Banjir lagi.”

Yang satu menyalahkan langit. Yang satu menatap tanah. Di antara keduanya, kita menyaksikan sebuah pementasan kolosal: banjir.

Hujan Hanyalah Figuran

Sejak akhir November 2025, banjir meluas, jalan nasional terputus, dan ribuan orang mengungsi. Di Aceh Tamiang, air menelan kota; kendaraan terjebak berjam-jam. Di wilayah lain, kampung berubah menjadi kolam tanpa batas waktu.

Namun hujan bukan tokoh baru di sejarah Aceh; kita sudah hidup dengan musim hujan puluhan tahun. Langitnya tetap, tetapi panggung di bawahnya berubah.

Dulu, air punya rumah: hutan rapat dan rawa luas. Kini rumah air itu kita gusur, diganti kebun monokultur dan ruko yang parkirnya lebih lebar daripada drainasenya. Ketika air kehilangan rumahnya, ia bertamu ke ruang tamu kita.

Banjir Aceh November 2025 sebagai Ritual Tahunan

Banjir Aceh November 2025 sudah bergeser dari kejadian luar biasa menjadi ritual dengan rundown yang mudah ditebak:

hujan turun → jalan putus → pejabat datang → konferensi pers → bantuan dibagi → banjir surut → lupa → ulangi tahun depan.

Nama wilayahnya sama, alasannya sama (“banjir kiriman”), korbannya sama. Bencana ini ibarat pementasan, festival tanpa panggung resmi. Tiket masuknya adalah ijazah basah dan kulkas yang hanyut.

RTRW: Naskah Drama yang Diabaikan

Kalau banjir ini adalah teater, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) adalah naskah asli yang dibuang sutradara.

Di atas kertas, semuanya ideal: ada kawasan lindung, daerah resapan, dan sempadan sungai. Kawasan lindung kalah dengan izin kebun. Sempadan sungai disulap menjadi kafe dan gudang.

Setiap tanda tangan yang mengabaikan peta adalah tiket menuju banjir berikutnya. Setiap dispensasi di kawasan rawan adalah undangan longsor. Kita sebut itu “pengembangan kawasan”, tapi banjir menyebutnya “jalan masuk”.

Teater Empati

Seperti festival mana pun, babak paling meriah adalah saat tamu kehormatan datang: “Teater Empati”.

Pejabat datang, kamera menyala, drone terbang. Sepatu bot baru menginjak lumpur. Bantuan diserahkan simbolis, bahu ditepuk, foto diambil.

Empati itu penting. Tapi empati yang berhenti di foto hanya mempercantik wajah kekuasaan, bukan memperbaiki lereng gundul. Kita cekatan membangun tenda dan menyalurkan mie instan, tapi lamban saat harus membongkar izin bermasalah di hulu.

Banjir surut, spanduk “posko siaga” dilipat, semua kembali normal. Sampai babak berikutnya dipentaskan.

Antara Iklim dan Kebiasaan Lama

Iklim memang berubah; dunia memanas dan hujan makin ekstrem. Tapi krisis global itu mendarat di Aceh yang rumahnya sudah rapuh.

Kita menghadapi iklim baru dengan kebiasaan lama: memuja beton lebih daripada pohon, dan mengukur kemajuan dari panjang jalan, bukan dari keamanan warga saat hujan. Kita mengganti pepatah leluhur dengan istilah “investasi” dan “optimalisasi lahan”. Air tidak peduli istilah itu. Ia hanya mengalir ke ruang yang tersisa.

Epilog: Suara dari Air yang Naik

Jika banjir Aceh November 2025 ini bisa bicara layaknya penutur hikayat, mungkin ia akan bersyair:

Jangan kau maki hujan yang jatuh dari langit,
makilah tanda tangan yang mengubah bukit.
Air hanya mencari jalan pulang,
ke tanah yang sudah lama kau usir dengan beton yang garang.

Sudah saatnya berhenti menyebut banjir sebagai “kejutan”. Selama kita lebih rajin mengubah peta daripada menjaga ruang hidup, banjir di Aceh bukan lagi musibah. Ia adalah festival tahunan yang paling mahal — dan tanpa sadar, kitalah sponsor utamanya.

BACA JUGA:  Sihir di Atas Peta