Juru Bicara Bukan Sekadar Mulut

Kita tidak pernah bertanya apa yang tidak disampaikan dalam konferensi pers. Kita sibuk mencatat yang dikatakan.

Itu bukan kelalaian kecil. Itu adalah hasil kerja sistem yang dirancang agar kita tidak sempat bertanya.

Juru bicara sering kita bayangkan sebagai seseorang yang tugasnya bicara. Tapi di Aceh hari ini — di mana ruang politik begitu padat dan opini publik begitu mudah terbakar — yang terlihat jauh lebih kompleks dari itu.

Juru bicara adalah sebuah sistem.

Lebih dari Sekadar Mulut

Bayangkan sebuah mesin dengan empat bagian yang bekerja sekaligus.

Kakinya berlari ke media — bukan karena ada sesuatu yang mendesak untuk disampaikan, tapi karena ada momentum yang harus dijaga. Rilis pers tidak dikirim sembarangan waktu. Ada perhitungan: kapan wartawan sedang tidak sibuk, kapan berita kompetitor sedang tenggelam, kapan publik sedang dalam kondisi paling mudah menerima framing tertentu.

Tangannya bekerja lebih halus. Tangan ini yang memilih kata. Bukan sembarang kata — kata yang terasa netral padahal tidak, kata yang membuka pintu untuk satu interpretasi dan secara diam-diam menutup interpretasi lain. “Insiden” bukan “kekerasan”. “Proses klarifikasi” bukan “penyelidikan”. “Dinamika internal” bukan “konflik terbuka”. Perbedaannya terlihat kecil, tapi efeknya bisa sangat besar.

Otaknya adalah bagian yang paling jarang kita pikirkan. Di sini berlangsung kalkulasi yang tidak pernah tampak di permukaan: siapa yang akan marah jika ini disampaikan, siapa yang diuntungkan jika itu ditunda, pada momen mana sebaiknya sebuah pengakuan dikeluarkan agar kerusakan bisa diminimalkan. Ini bukan kebohongan — ini manajemen. Dan itulah yang membuatnya lebih licin dari kebohongan biasa.

Dan mulutnya — ya, juru bicara memang akhirnya bicara. Tapi perhatikan bukan hanya apa yang ia katakan. Perhatikan kepada siapa ia bicara dan kepada siapa ia tidak bicara. Wartawan mana yang mendapat akses langsung, dan wartawan mana yang pertanyaannya selalu dijawab melalui email resmi tiga hari kemudian. Media mana yang diundang ke briefing eksklusif, dan media mana yang hanya menerima siaran pers.

Dalam sistem seperti ini, diam bukan berarti tidak ada informasi. Diam adalah informasi yang dipilih untuk tidak diberikan.

Keheningan yang Diproduksi

Walter Lippmann — jurnalis Amerika yang menulis tentang opini publik pada 1922 — punya frasa yang sampai hari ini masih relevan: kita tidak pernah langsung merespons dunia nyata. Kita merespons gambaran tentang dunia yang ada di kepala kita. Dan gambaran itu tidak datang sendiri — ia dibentuk, dipilih, dan diantarkan oleh orang-orang yang tahu cara memilih apa yang kita lihat.

Juru bicara adalah salah satu orang itu.

Tapi yang lebih menarik — dan lebih sedikit dibicarakan — adalah bukan gambaran apa yang ia berikan, melainkan gambaran apa yang ia putuskan untuk tidak berikan.

BACA JUGA:  Mengintip Dunia Zulkirbi: Menyulap Kenangan, Menyalakan Panggung

Sosiolog Erving Goffman pernah menulis tentang dua panggung dalam kehidupan sosial: front stage, yaitu apa yang dipertontonkan kepada publik, dan back stage, yaitu apa yang terjadi di balik layar. Juru bicara adalah satu-satunya orang yang berdiri di antara dua panggung itu — ia tahu apa yang ada di belakang, tapi pekerjaannya adalah memastikan penonton tidak pernah mencari-cari tirai yang memisahkan keduanya.

Keheningan, dalam pengertian ini, bukan sesuatu yang terjadi secara alami. Ia adalah sesuatu yang dikelola.

Siapa yang Diberi Suara, Siapa yang Dibisukan

Di sinilah inti persoalannya.

Saat seorang juru bicara membuka suara — ia secara bersamaan juga menutup suara yang lain. Bukan selalu dengan cara kasar: bukan selalu dengan intimidasi atau larangan. Kadang cukup dengan tidak mengangkat telepon. Kadang cukup dengan merespons satu media lebih cepat dari yang lain. Kadang cukup dengan menyebut satu nama narasumber dan tidak menyebut nama yang lain.

Ini bukan konspirasi besar. Ini adalah keseharian.

Dan di Aceh — dengan sejarah yang belum selesai dicerna dan media lokal yang tidak selalu punya sumber daya untuk mengejar semua sisi cerita — sistem seperti ini bekerja lebih efektif dari yang kita bayangkan. Bukan karena ada kejahatan besar di baliknya. Tapi karena tidak perlu ada.

Desain, Bukan Niat

Saya perlu jujur: tidak semua juru bicara bekerja dalam kerangka seperti yang saya gambarkan. Ada yang benar-benar percaya tugasnya adalah transparansi — bahwa ia adalah penghubung, bukan penyaring, antara institusi dan publik.

Dan mungkin niat baik itu nyata.

Hanya saja, sistem yang ada tidak selalu memberi ruang bagi niat baik untuk bekerja sepenuhnya. Ketika seorang juru bicara yang jujur bekerja dalam institusi yang tidak terbiasa dengan keterbukaan, yang terjadi bukan institusi yang berubah mengikuti nilai-nilainya — melainkan sebaliknya. Lama-kelamaan, bahkan orang yang awalnya ingin bicara jujur pun belajar bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak disampaikan, ada waktu yang tidak tepat, ada kata-kata yang terlalu berbahaya untuk diucapkan di depan kamera.

Sistem membentuk orang yang bekerja di dalamnya.

Pertanyaan yang Perlu Ditanam

Setiap kali ada pernyataan resmi — dari pemerintah daerah, dari institusi, dari siapa pun yang berdiri di podium — ada satu pertanyaan yang lebih berguna dari semua pertanyaan lain: siapa yang tidak hadir dalam pernyataan ini?

Bukan siapa yang berbicara. Siapa yang tidak diundang bicara. Wartawan mana yang tidak ada di ruangan. Suara mana yang sudah diputuskan tidak relevan sebelum kamera dinyalakan.

Bukan pertanyaan yang perlu jawaban segera.

Back stage selalu sibuk. Pertanyaannya adalah seberapa nyaman ia dengan kita yang mulai tahu itu.