Kota Tanpa Ingatan

Membangun gedung itu urusan tukang. Membangun kota itu urusan jiwa.

Kita sering terjebak dalam ilusi visual. Ketika crane-crane raksasa menari di langit dan beton-beton baru mulai mengering, kita merasa “pemulihan” sudah selesai. Kita bertepuk tangan karena jalanan sudah mulus dan gedung sekolah sudah berdiri tegak.

Itu bagian termudah. Itu cuma soal teknis. Beri saya semen, baja, dan anggaran, maka dalam enam bulan fisik itu akan ada di sana.

Tapi kota bukanlah sekadar kumpulan gedung. Kota adalah percakapan. Kota adalah aroma kopi di pagi hari, gema syair di meunasah, dan cara orang menyapa tetangganya. Kota adalah ingatan kolektif yang hidup di kepala penghuninya, bukan di dinding betonnya.

Bahaya terbesar pascabencana bukanlah lambatnya pembangunan fisik, melainkan percepatan penghapusan memori.

Ketika kita sibuk menyusun batu bata tapi lupa menyusun kembali ruang kreasi, kita sedang melakukan lobotomi massal. Kita sedang mencabut bagian otak yang menyimpan identitas.

Bayangkan sebuah kota yang megah, rapi, dan bersih, tapi penghuninya berjalan seperti zombie. Mereka tidak tahu lagu apa yang dulu dinyanyikan kakeknya di sudut jalan itu. Mereka tidak tahu kenapa pasar itu bernama demikian. Mereka menjadi turis di tanah kelahirannya sendiri.

Jika ruang kreasi—tempat kebudayaan bernapas—tidak dibangun secepat kita membangun jembatan, kita sedang mewariskan sebuah kota yang amnesia.

Anak cucu kita nanti mungkin akan tinggal di kota yang “baru” dan “modern”. Tapi mereka akan tumbuh tanpa akar, bingung mencari identitas, dan akhirnya menjadi orang asing yang kesepian di tengah keramaian.

Fisik bisa diganti. Tapi sekali sejarah dan ruang batin itu hilang, tidak ada kontraktor manapun di dunia ini yang bisa membangunnya kembali.

BACA JUGA:  Festival Keren, Bahasa Aceh Ditinggal