Pintar Palsu Massal
Di warung kopi, sendok beradu di gelas sanger. Kipas angin berputar, seperti debat yang tak pernah benar-benar selesai.
Joe menghela napas. “Bang, sekarang semuanya serba mudah. Abang tinggal ikuti aja.”
“Termasuk belajar, Joe?”
“Termasuk berpikir, Bang,” kata Joe. “Dulu orang debat untuk mencari benar. Sekarang, untuk mencari menang.”
Saya mengernyit. “Tapi indikator pendidikan naik. Sarjana makin banyak. Cum Laude makin sering.”
Joe mengangguk. “Nilai tinggi itu angka, Bang. Angka itu pasti. Seperti angka ujian.”
“Berarti matematika gampang?”
“Gampang kalau soalnya dibuat supaya gampang, Bang,” kata Joe. “Yang susah itu yang butuh tanggung jawab.”
“Contohnya?”
“Kajian keagamaan,” Joe menjawab pelan. “Bukan karena agamanya susah. Karena menafsir itu perlu hati-hati—dan mudah dipelintir. Yang hati-hati biasanya tidak laku.”
Saya tersenyum kecil. “Jadi solusinya?”
Joe menunjuk ponsel saya. “Nah itu, Bang. Abang tinggal ikuti aja.”
“Siapa?”
“Siapa pun yang dipilih algoritma—biasanya yang paling singkat. Abang merasa paham, padahal cuma hafal. Paham itu kerja; hafal itu gulir.”



