Tangguh, Tapi untuk Siapa?

Kita suka kata “tangguh” karena ia terdengar seperti kemenangan kecil. Padahal sering kali itu hanya label rapi untuk keadaan yang tidak memberi kita pilihan lain.

Saat bencana datang seperti tsunami, bertahan dan bangkit terasa lebih jujur, karena tak ada tombol “undo”. Tak ada pihak yang bisa kita tunjuk sebagai penyebab tunggal. Yang bisa dilakukan adalah saling menguatkan, menata ulang hidup, dan berjalan lagi—pelan, tapi nyata.

Tapi pada banjir yang berulang, “tangguh” sering berubah fungsi. Ia jadi poster yang ditempel tergesa setelah semuanya basah. Ia jadi ajakan bersabar yang terdengar bijak, sementara pertanyaan pentingnya dibiarkan menguap: kenapa ini terus terjadi, dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?

Bersabar bisa menyelamatkan jiwa. Tapi kalau sabar dijadikan jawaban satu-satunya, ia berubah jadi bius: menenangkan kita, sementara akar masalahnya dibiarkan tetap bekerja.

Di titik ini, pujian kadang lebih menguntungkan sistem daripada orang yang terluka.

Ketangguhan yang sehat tidak hanya kuat menahan.

Ia juga cukup berani untuk bertanya.

Cukup berani untuk menuntut perbaikan.

Cukup berani untuk menolak dininabobokan oleh pujian.

Karena tujuan kita bukan menjadi “ahli bertahan”.

Tujuan kita adalah tidak jatuh ke lubang yang sama.

Di banyak tempat, termasuk di Aceh, kata “tangguh” sering mampir lebih dulu daripada solusi.

BACA JUGA:  Saleum