Warisan Bukanlah Kebisingan

Apa yang akan mereka ingat tentang kita?

Bukan gelar akademis. Bukan juga status sosial. Generasi mendatang hanya akan peduli pada satu hal: jejak yang bisa mereka ikuti.

Untuk melihatnya dengan jernih, saya pakai Minangkabau sebagai cermin.

Di sana, gagasan punya alamat. Ada Kweekschool Bukittinggi. Ada INS Kayutanam. Mereka tidak hanya melahirkan orang pintar; mereka membangun ekosistem.

Mereka memberikan “rumah” bagi pikiran.

Itulah mengapa nama-nama seperti Tan Malaka atau Sutan Takdir Alisjahbana tidak menguap begitu saja. Mereka punya fondasi untuk menetap.

Aceh punya garis yang sama panjangnya. Sangat panjang. Tapi kita jarang membicarakannya dengan napas yang sama.

Sejarah mencatat: Hamzah Fansuri menulis. Ar-Raniri mendokumentasikan. As-Singkili membangun jaringan global. Ali Hasjmy membuktikan bahwa kita bisa menjadi apa saja: ulama sekaligus sastrawan.

Anehnya label yang menempel justru perang dan harga diri.

Itu karena ingatan kolektif memilih jalan termudah. Konflik punya judul pendek. Ilmu bergerak pelan. Arsip tidak viral.

Seratus tahun dari sekarang, orang tidak menilai niat kita.

Mereka menilai bukti yang tersisa.

BACA JUGA:  Beda Kepekaan Seniman Aceh Tua