Dua Cerita Banjir
Kita punya dua versi banjir: versi lapangan, dan versi rilis pers.
Versi lapangan: air masuk, dapur tenggelam, orang angkat barang, lalu mengungsi.
Versi rilis pers: “terkendali”, “tertangani”, “dipantau”. Lengkap dengan foto rompi, titik lokasi, dan kalimat yang selalu terasa kering. Jauh lebih kering dari kenyataan yang basah.
Masalahnya: media utama mengutip statement itu. Mesin pencari mengarsipkannya. Lalu Google menyodorkannya sebagai versi yang paling “tepercaya”.
Akibatnya, pencari kabar menemukan halaman yang bersih—sementara lantai rumah warga tetap berlumpur.
Bukan cuma salah informasi, ini rekayasa kenyataan.
Jadi kalau kepingin “berita baik”, caranya bukan dengan memoles statemen. Caranya: hadir. Benar-benar hadir.



