Hikayat Tabib Pandai yang Lidahnya Tergadai di Kaki Anak Raja

Alkisah, di sebuah negeri yang bising, hiduplah seorang Tabib yang amat termasyhur. Namanya Tabib Fulan.

Tabib Fulan bukan sembarang dukun. Ia lulusan “negeri atas angin”, gelarnya berderet, ilmunya tak main-main. Keahlian utamanya adalah membedah wajah buruk rupa menjadi elok jelita. Rakyat hormat padanya; kaum cerdik pandai segan padanya. Logikanya setajam pisau bedah, bicaranya terukur bak dosis obat bius.

Namun, tak ada yang tahu, di balik jas putihnya yang mentereng, Tabib Fulan menyembunyikan “luka” yang tak bisa sembuh: sebuah bekas cakaran tak kasat mata di lehernya. Tanda bahwa ia adalah “tumbal”.

Huru-hara ini bermula di alun-alun kota pada suatu pagi yang cerah.

Putra Mahkota, sang Anak Raja yang sedang “magang” memimpin negeri, tengah lari pagi. Namun, ada yang ganjil. Sang Pangeran mengenakan sepatu besi yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kaki mungilnya. Jalannya tertatih, bunyi klontang-klontung langkahnya membuat ayam-ayam terbangun kaget.

Seorang Pelawak Kota, yang kebetulan sedang menyesap sanger di pinggir jalan, tak kuasa menahan tawa.

“Duhai Tuanku Muda!” teriak si Pelawak. “Bukankah berat lari dengan sepatu raksasa milik Ayahanda itu? Awas tersandung! Kakimu belum cukup umur untuk ukuran itu!”

Rakyat yang mendengar ikut terkekeh. Itu lelucon sederhana. Fakta yang telanjang. Sepatu itu memang kebesaran. Titik.

Namun, di sudut warung, Tabib Fulan tiba-tiba tersedak kopinya. Matanya mendelik putih. Tubuhnya mengejang bukan karena ayan, tapi karena “Sinyal Gaib” dari istana telah berbunyi.

Kontrak itu… kontrak itu mulai bekerja.

Syahdan, mari kita putar waktu ke sepuluh tahun silam. Bukan di gua hantu, melainkan di sebuah ruang VVIP berpendingin udara di menara gading Ibukota.

Saat itu, Tabib Fulan datang membawa proposal izin klinik megah. Di hadapannya, duduk sesosok “Penjaga Gerbang” dengan senyum yang terlalu lebar.

“Izinmu akan keluar, Tabib,” desis sosok itu. “Hartamu akan melimpah. Pasienmu akan antre sampai ke jalan raya. Tapi, kami minta mahar.”

“Potongan 20 persen?” tanya Tabib polos.

“Bukan. Kami butuh Otak dan Lidahmu,” jawab sosok itu sambil menyodorkan kertas kulit bertinta merah pekat—merah darah. “Tanda tangani ini. Syaratnya cuma satu: Kapanpun Tuan Besar atau Anaknya bertingkah, kau harus membenarkannya. Kau harus carikan dalil ilmiahnya, walau itu senaif tai kucing rasa cokelat.”

Tabib Fulan, yang silau akan dunia, menandatanganinya. Saat pena menari, ia merasakan lehernya tercekik. Urat malunya putus seketika. Ia resmi menjadi “Tumbal Bernyawa”. Ia tidak dimatikan, tapi ia tak lagi memiliki dirinya sendiri.

Kembali ke masa kini di alun-alun.

Rasa panas menjalar di leher Tabib Fulan. Jin Kontrak di dalam darahnya berbisik garang: “Bela Anak Raja! Atau karirmu tamat!”

Maka, melompatlah Sang Tabib ke tengah jalan. Ia menuding wajah si Pelawak dengan jari gemetar.

“Heh, Pandir! Tutup mulutmu!” teriak Tabib. Suaranya serak, matanya liar. “Kau rakyat jelata tahu apa soal anatomi?! Itu bukan sepatu kebesaran! Itu adalah teknik ‘Biomekanik Langkah Raksasa’! Itu strategi supaya Pangeran bisa melangkah lebih jauh dari kita semua!”

Si Pelawak bengong. “Tapi Tuan Tabib… itu jelas-jelas longgar…”

“Diam kau!” potong Tabib Fulan makin ngawur. “Matamu itu mata awam! Secara medis, ruang kosong di sepatu itu berfungsi untuk menyimpan cadangan oksigen! Kau hanya iri karena sepatumu penuh kadas!”

Rakyat ternganga. Bagaimana mungkin seorang ilmuwan terhormat membela hal konyol dengan argumen yang lebih konyol? Ia menyerang fisik si pelawak, ia merendahkan logika, ia melacurkan ilmunya di aspal panas alun-alun.

Di dalam batinnya, jiwa Tabib Fulan menangis. “Hentikan… aku terdengar bodoh sekali…” rintih nuraninya. Tapi mulutnya terus bergerak sendiri, dikendalikan oleh remote control dari singgasana. Ia tak bisa berhenti menari, meski kakinya patah. Ia tak bisa berhenti menjilat, meski lidahnya kelu.

Malam itu, Sang Tabib pulang ke istana pribadinya. Ia berdiri di depan cermin besar.

“Sudah selesai tugas hari ini?” tanya bayangan di cermin itu dengan suara yang mirip suara Tuan Besar.

Sang Tabib gemetar. Ia meraba lehernya. Bekas tanda tangan kontrak itu kini terasa seperti rantai besi yang dingin.

“Aku lelah,” bisik Sang Tabib. “Biarkan aku pensiun. Biarkan aku bicara jujur sekali saja. Sepatu Anak Raja itu memang kebesaran…”

Bayangan di cermin tertawa, suara tawanya memecahkan kaca-kaca jendela di hati nuraninya.

“Kau tidak bisa pensiun, Sahabat. Kau bukan lagi manusia bebas. Kau adalah ‘Tumbal Bernyawa’. Tugasmu adalah menjadi tameng daging. Jika panah melesat ke arah Anak Raja, dadamulah yang harus berlubang. Jika kotoran dilempar ke wajah Raja, lidahmulah yang harus menjilatnya bersih.”

Sang Tabib terdiam. Ia sadar, ia telah melakukan transaksi paling merugi dalam sejarah dagang Aceh. Ia menukar logikanya dengan posisi, menukar kehormatannya dengan kedekatan.

Di luar rumah, angin malam berhembus membawa kabar burung: besok, Anak Raja akan mencoba “terbang” dari menara istana menggunakan sayap ayam goreng.

Dan Sang Tabib tahu, besok pagi-pagi sekali, ia harus sudah siap di alun-alun, menjelaskan kepada rakyat dengan wajah serius bahwa: “Secara aerodinamika, lemak ayam goreng adalah bahan bakar roket terbaik.”

Begitulah nasib mereka yang terikat kontrak mati. Ia hidup bergelimang harta, tapi sejatinya, ia telah mati jauh sebelum malaikat maut datang menjemput.

Tamat.

BACA JUGA:  Menghitung Diri