Map yang Menari Lebih Rapi daripada Sanggar
Map hijau Bu Rahma lebih berprestasi daripada sanggar tarinya.
Setidaknya begitu yang terlihat pagi itu di toko fotokopi dekat simpang.
Di sudut ruangan, sebuah tas besar berisi kostum tari Aceh tergeletak di lantai. Kainnya mulai pudar. Beberapa payet lepas. Ada selendang yang ujungnya dijahit ulang berkali-kali. Bertahun-tahun kostum itu menemani latihan, pentas sekolah, kenduri kampung, dan festival kecil yang sering dibayar dengan sertifikat dan ucapan terima kasih.
Di atas meja, map hijau baru berumur tiga hari.
Namun semua orang memperlakukannya dengan hormat.
“Berapa rangkap, Bu?” tanya anak fotokopi.
“Lima.”
“Jilid biasa atau spiral?”
Bu Rahma memandang tas kostum di lantai.
“Yang paling murah saja.”
Anak fotokopi mengangguk.
Tidak ada yang bertanya apakah kostum itu masih layak dipakai menari.
Yang penting jilidnya rapi.
Di halaman depan proposal tertulis besar: Dana Kreasi Budaya untuk Pelaku Seni.
Huruf-hurufnya dicetak tebal.
Begitu tebal sampai-sampai hampir terasa lebih nyata daripada para penarinya sendiri.
Cut Nisa datang membawa buku catatan latihan.
“Sudah siap karya, Bu?”
Bu Rahma mengangkat map hijau.
“Sudah.”
“Koreografi baru selesai?”
“Belum.”
“Latihan?”
“Belum.”
“Formasi?”
“Belum.”
“Lalu yang sudah?”
Bu Rahma mengangkat map lebih tinggi.
“Ini.”
Mereka tertawa.
Tawa yang biasanya muncul ketika seseorang tidak tahu harus menangis atau tidak.
Mesin fotokopi berdengung khidmat.
Lembar demi lembar keluar seperti sedang mencetak masa depan kebudayaan.
Halaman tujuan.
Halaman manfaat.
Halaman luaran.
Halaman indikator.
Halaman keberlanjutan.
Semuanya lengkap.
Hanya satu yang belum ada.
Tarian yang dijelaskan di dalamnya.
Di meja kasir, Pak Nurdin Percetakan membuka map merah.
“Lampiran jangan lupa,” katanya.
“Foto kegiatan, daftar pengalaman, rencana kerja, jadwal latihan, RAB, profil sanggar, nomor rekening, surat domisili, surat pernyataan, dan dokumentasi pendukung.”
Bu Rahma mengangguk.
“Kalau koreografi baru belum jadi?”
Pak Nurdin berpikir sebentar.
“Itu tidak masalah.”
“Kalau penarinya tinggal tiga orang?”
“Tidak masalah.”
“Kalau kostumnya sudah rusak?”
“Tidak masalah.”
“Kalau lampiran kurang?”
Pak Nurdin langsung menggeleng.
“Nah, itu masalah besar.”
Bu Rahma mengangguk pelan.
Ia mulai memahami hierarki kebudayaan.
Di puncak ada stempel.
Di bawahnya tanda tangan.
Di bawahnya fotokopi KTP.
Di bawahnya nomor rekening.
Jauh di bawah sana, setelah beberapa lapis administrasi, barulah mungkin ada tarian.
Anak fotokopi menyusun berkas.
“Bu, kurang tanda tangan ketua sanggar.”
“Saya ketuanya.”
“Sekretaris?”
“Saya juga.”
“Bendahara?”
Bu Rahma menunjuk dirinya lagi.
Anak fotokopi mengernyit.
“Tidak boleh rangkap jabatan.”
Bu Rahma menoleh ke tas kostum.
“Kalau kostum itu jadi bendahara?”
Anak fotokopi tertawa.
“Tidak bisa. Harus manusia.”
Bu Rahma hampir bertanya apa syarat menjadi manusia dalam formulir itu, tetapi urung.
Menjelang zuhur, map hijau selesai dijilid.
Tebal.
Rapi.
Meyakinkan.
Kalau diletakkan di meja, tampilannya lebih mengesankan daripada ruang latihan sanggar yang atapnya bocor.
Bu Rahma membayar biaya fotokopi dengan uang yang sebenarnya ia sisihkan untuk memperbaiki kostum penari.
Hari itu sanggar kalah lagi.
Bukan oleh sanggar lain.
Bukan oleh zaman.
Melainkan oleh proposal tentang dirinya sendiri.
Di depan toko, Cut Nisa bertanya, “Latihan sore jadi?”
Bu Rahma memandang map hijau.
“Jadi.”
“Koreografi baru sudah ada?”
“Belum.”
“Dana sudah turun?”
“Belum.”
“Lalu apa yang jadi?”
Bu Rahma tersenyum tipis.
“Administrasinya.”
Mereka berjalan menuju kantor kecil dekat simpang.
Di tangan kiri Bu Rahma ada tas kostum yang mulai usang.
Di tangan kanan ada map hijau yang penuh kata-kata tentang pelestarian budaya.
Aneh sekali.
Yang satu bisa menghadirkan gerak, irama, dan keindahan di atas panggung tetapi tidak dianggap cukup penting.
Yang satu tidak bisa menari sedikit pun, tetapi menentukan apakah tarian boleh hidup atau tidak.
Mungkin itulah sebabnya map hijau tampak begitu percaya diri.
Ia tahu, di zaman itu, dokumen sering lebih diperhatikan daripada pertunjukan.



