Ukuran Anak di Rumah
Sejak sore, Bu Jannah sudah berdiri di depan lemari kaca di sudut ruang tamu. Lap kecil di tangannya bergerak dari bingkai ke bingkai. Ia mengusap piala Fahri waktu kelas tiga SMA, ijazah kuliah yang sudah diberi pigura cokelat, sertifikat pelatihan dari kantor, lalu foto wisuda yang kacanya mulai kusam di bagian sudut.
“Yang itu naik sedikit,” katanya.
Pak Rahman berdiri di belakangnya sambil membawa bingkai baru.
“Ini yang paling baru.”
Di dalam bingkai itu ada nama Fahri, logo perusahaan, dan tulisan kecil tentang penghargaan untuk pegawai muda. Pak Rahman memasukkannya ke rak paling atas, di sebelah piala lomba pidato yang sudah lama tidak disentuh.
“Jangan dekat kaca,” kata Bu Jannah. “Nanti silau waktu difoto.”
Malam itu Pak Darman akan datang. Ia sedang mengumpulkan data untuk buku kecil gampong tentang anak-anak yang dianggap berhasil. Beberapa rumah sudah didatangi. Di grup WhatsApp, orang-orang mengirim foto anak mereka dengan toga, seragam kantor, jas laboratorium, dan kartu nama yang sengaja ditaruh di atas meja.
Pak Rahman sudah menyiapkan jawaban.
“Fahri kerja di Medan.”
“Perusahaan logistik.”
“Koordinator wilayah.”
Ia menyebut tiga kalimat itu beberapa kali sambil memeriksa letak bingkai.
Di bawah meja televisi, Nek Basyirah duduk dengan buku hijau tua di pangkuan. Sampulnya tipis di bagian punggung. Sudutnya sudah seperti telinga kucing yang sering dilipat. Buku itu selalu ikut pindah tempat sejak rumah masih beratap seng.
Pak Rahman pernah bertanya isi buku itu.
“Catatan belanja, Nek?”
Nek Basyirah menggeleng.
“Catatan rumah.”
Sejak itu buku hijau itu tidak pernah lagi ditanya.
Fahri pulang menjelang magrib. Ia datang dengan tas kerja kecil dan sepatu yang masih berdebu dari perjalanan. Bu Jannah langsung menyuruhnya mandi. Pak Rahman menyuruhnya berdiri di depan lemari.
“Foto dulu. Sekali saja.”
“Ayah, saya baru turun mobil.”
“Sekali saja. Nanti Pak Darman mau datang.”
Fahri berdiri juga. Ia tidak pernah pandai menolak ayahnya dalam perkara seperti itu. Bu Jannah mengambil telepon. Pak Rahman menepuk bahu Fahri agar ia bergeser sedikit ke kanan.
“Jangan tutup sertifikat.”
Rumi baru pulang ketika Bu Jannah hendak mengambil foto kedua. Rok seragamnya basah di bagian bawah. Ada noda tanah di lututnya. Rambutnya menempel di pipi.
“Dari mana?” tanya Pak Rahman.
“Di depan lorong, Bibi Mariam jatuh.”
“Jatuh apa?”
“Jeruknya jatuh semua. Saya bantu kumpulkan.”
Pak Rahman melihat jam dinding.
“Masuk dulu. Cuci kaki. Jangan lewat ruang tamu begitu.”
Rumi mengangguk. Ia meletakkan tasnya di dekat pintu. Dari dalam tas, ujung kertas gambar terlihat keluar. Kertas itu lembap dan sedikit mengeriting.
Fahri memungutnya.
“Ini gambar apa?”
Rumi menoleh dari arah kamar mandi.
“Pasar.”
Di kertas itu ada gambar payung-payung kecil, keranjang jeruk, dan seorang perempuan tua yang duduk di bangku pendek. Di sudut kiri bawah, Rumi menulis namanya dengan pensil warna biru.
Fahri hendak mengembalikannya ke tas ketika Pak Rahman berkata, “Taruh saja dulu. Nanti basah semua meja.”
Kertas itu diletakkan di atas meja makan.
Pak Darman datang setelah azan isya. Ia membawa map kuning dan formulir yang sudah dilubangi di sisi kiri. Ia duduk di sofa paling dekat lemari kaca. Pak Rahman menyuguhkan kopi. Bu Jannah membawa timphan di atas piring putih.
Pak Darman membuka formulir.
“Nama anak pertama?”
“Fahri Rahman.”
“Pendidikan?”
Pak Rahman menjawab.
“Pekerjaan?”
Pak Rahman menjawab lagi.
“Jabatan?”
Kali ini ia menjawab lebih pelan, agar Pak Darman tidak salah tulis.
Pak Darman mengangguk sambil mencatat. Sesekali ia melihat lemari kaca. Mungkin agar ejaan nama pada sertifikat sama dengan ejaan di formulir.
“Prestasi lain?” tanyanya.
Pak Rahman menunjuk rak atas.
“Itu semua ada.”
Pak Darman menulis beberapa kata. Kolom di formulirnya sempit. Ia menekan pulpen lebih kuat agar hurufnya muat.
Setelah Fahri, ia menyebut nama Rumi.
“Masih sekolah?” tanyanya.
“Masih,” jawab Pak Rahman. “Kelas dua SMA.”
“Prestasi?”
Rumi keluar dari kamar dengan rambut masih basah. Ia berdiri dekat meja makan. Matanya mencari kertas gambar tadi.
Pak Rahman membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Dia suka gambar,” kata Bu Jannah.
Pak Darman mengangguk.
“Pernah menang lomba?”
Rumi menggeleng.
“Pernah gambar pasar,” kata Fahri sambil menunjuk meja makan.
Pak Darman menoleh. Kertas itu sudah mulai kering. Sudutnya naik sedikit. Gambar payung-payung kecil tampak kusam karena terkena air.
“Bagus juga,” kata Pak Darman.
Ia memegang formulirnya lagi.
“Untuk gambar belum ada kolom.”
Nek Basyirah, yang sejak tadi diam di bawah meja televisi, membuka buku hijaunya. Ia membalik beberapa halaman. Kertas-kertas di dalamnya tidak sama warna. Ada yang sudah cokelat, ada yang masih putih.
Ia berhenti pada satu halaman dan mendorong bukunya ke arah Rumi.
Di sana ada tulisan kecil:
Rumi, hari Selasa, pulang lambat karena bantu Bibi Mariam kumpulkan jeruk di jalan.
Rumi membaca pelan. Ia tidak tahu Nek Basyirah pernah melihatnya.
Pak Darman ikut melihat, lalu tersenyum.
“Nek rajin mencatat.”
Nek Basyirah mengangguk.
“Kalau tidak ditulis, rumah cepat lupa.”
Pak Rahman memandang buku itu. Lalu ia memandang lemari kaca. Cahaya lampu memantul pada bingkai-bingkai yang tersusun rapi.
Pak Darman melanjutkan formulirnya. Ia menulis nama Rumi, sekolahnya, lalu berhenti sebentar pada kolom prestasi. Setelah itu ia membuat satu garis kecil dan beralih ke halaman berikutnya.
Ketika tamu sudah pulang, Bu Jannah membereskan gelas kopi. Fahri membawa tasnya ke kamar. Rumi melipat gambar pasar dan memasukkannya kembali ke dalam buku pelajaran.
Pak Rahman masih berdiri di depan lemari.
Ia membuka pintunya pelan. Sertifikat Fahri yang paling baru diambil dari rak atas. Bingkainya dibawa ke meja makan, lalu diletakkan di samping gambar pasar yang ujungnya masih melengkung.
Nek Basyirah menutup buku hijaunya.
Di dalam lemari, satu ruang kecil tinggal memantulkan meja makan.



