Tepuk tangan tidak bisa ditransfer ke rekening listrik. Imbalan adalah napas — biaya cetak, bensin, sewa ruang. Peradaban dimulai dari kebiasaan paling sederhana: beli buku. Bayar puisi. Tulis kontrak. Siapkan honor sebelum backdrop. Mulai dari situ.
Seniman Juga Membayar Listrik
Ada kalimat yang indah bila dibaca dari beranda teduh.
Kalimat itu menyebut seni telah melampaui panggung, pengakuan, dan imbalan. Seni diangkat ke tempat tinggi. Hampir seperti doa. Di sana, seni diberi tugas besar: mengubah peradaban.
Kita ingin seni hidup lebih lama daripada tepuk tangan.
Kita ingin sastra keluar dari lomba status. Kita ingin musik, puisi, teater, tari, hikayat, lukisan, film, dan seluruh kerja estetik menyentuh cara manusia berpikir, merasa, berbicara, memilih, dan memperlakukan orang lain.
Cita-cita itu bagus.
Tetapi cita-cita bisa berubah menjadi kabut bila dilepaskan dari tanah tempat seniman berdiri.
Sebab seniman berdiri di tanah yang berbeda.
Dua Tanah yang Berbeda
Ada seniman yang punya gaji tetap. Ada kantor. Ada jabatan. Ada ruang akademik. Ada akses lembaga. Ada jaringan birokrasi. Ada keamanan bulanan yang datang seperti musim yang patuh.
Pada tanggal tertentu, rekening bergerak. Listrik dibayar. Beras dibeli. Anak tetap sekolah. Buku bisa dicetak, meski hari itu belum laku.
Dari tempat seperti itu, honor tampil mudah tampak kecil.
Panggung menjadi bonus. Royalti menjadi angka tambahan. Undangan baca puisi disebut pengabdian. Pengakuan terasa selesai, sebab pengakuan lain sudah lebih dulu datang: gelar, status, institusi, dan nama yang tercatat di banyak ruang resmi.
Di tanah lain, seorang seniman mencetak antologi dengan uang sendiri.
Ia datang ke acara memakai ongkos pribadi. Ia mengajar kelas kecil dari rumah ke rumah. Ia menunggu honor tulisan yang cair entah kapan. Ia menjual karya sambil menahan malu. Ia meminjam uang untuk menyelesaikan produksi.
Ia pulang dari panggung membawa amplop tipis.
Lalu tetap tersenyum di foto bersama panitia.
Untuk orang seperti ini, imbalan bukan perkara rendah.
Imbalan adalah napas.
Ia menjadi biaya cetak. Bensin. Ongkos kirim buku. Cicilan alat. Sewa ruang latihan. Uang makan selama proses kreatif yang panjang.
Ia membuat seorang penyair tetap bisa menulis tanpa meminta maaf kepada dapurnya sendiri.
Lewat bagi Siapa?
Maka saat ada kalimat yang menyebut masa mencari panggung, pengakuan, dan imbalan sudah lewat, pertanyaan kecil muncul:
Lewat bagi siapa?
Sudah lewat bagi mereka yang punya panggung tetap. Sudah lewat bagi mereka yang punya pengakuan formal. Sudah lewat bagi mereka yang penghasilannya tidak bergantung pada laku atau tidaknya buku.
Mereka boleh bicara tentang seni yang naik kelas.
Itu pengalaman mereka.
Masalah muncul ketika pengalaman pribadi dijadikan ukuran umum.
Di situ kalimat indah berubah menjadi palu moral. Seniman yang masih mencari honor tampak kecil. Penulis yang menjual bukunya tampak haus pengakuan. Pemusik yang menyebut harga sebelum tampil tampak belum sampai pada maqam peradaban.
Peradaban tidak dibangun dengan membuat pekerja kreatif merasa bersalah karena butuh hidup.
Peradaban tampak dari cara masyarakat memperlakukan kerja yang tidak langsung menghasilkan beton, aspal, dan gedung.
Buku dibeli atau hanya dipuji.
Puisi dibayar atau hanya dikutip.
Seniman diundang dengan kontrak jelas atau hanya diberi plakat.
Panitia menyiapkan honor sebelum menyiapkan backdrop.
Negara menganggap kebudayaan sebagai kerja panjang atau hiasan sambutan.
Di sana ukuran peradaban terlihat.
Ekosistem, Bukan Romantisasi
Seni memang bisa mengubah peradaban. Tetapi seni tidak bekerja di udara.
Ia perlu ekosistem.
Ia perlu penerbit yang sehat. Pembaca yang membeli. Ruang pertunjukan yang adil. Kurator yang jujur. Kritik yang tajam. Arsip. Pendidikan. Distribusi. Lembaga yang mengingat seniman sejak anggaran disusun, bukan ketika acara butuh warna.
Kerja kreatif adalah kerja.
Hobi punya waktu luang.
Seni punya ongkos.
Bicarakan peradaban. Baik. Tetapi mulailah dari kebiasaan kecil: beli buku. Bayar puisi. Tulis kontrak. Siapkan honor. Bicarakan harga sebelum tepuk tangan.
Jangan meromantisasi lapar seniman.
Jangan menjadikan imbalan sebagai musuh kesucian seni.
Jangan memakai kemapanan pribadi sebagai ukuran kedewasaan estetik orang lain.
Ada seniman yang selesai dengan panggung. Itu haknya.
Ada penulis yang selesai dengan pengakuan. Itu juga haknya.
Ada akademisi yang hidupnya ditopang dari tempat lain, lalu tidak lagi memikirkan honor dari karya seni. Itu pun haknya.
Seniman lain masih mencari panggung. Ia masih menjual buku. Ia masih menagih honor. Ia masih bicara harga sebelum tampil. Ia masih menolak undangan yang membayar dengan ucapan, “nanti kami bantu publikasi.”
Itu juga haknya.
Sebab tepuk tangan tidak bisa ditransfer ke rekening listrik.
Dan peradaban, kalau benar ingin diubah, harus mulai dari cara paling sederhana: membayar orang yang membuatnya tetap bernapas.



