Nama Bang Saman Disebut Tiga Kali

Pagi itu Bang Saman datang lebih cepat dari jadwal.

Ia membawa rapa’i tua dalam kantong kain lusuh. Talinya mulai kendur. Kulitnya sudah berubah warna. Tetapi kalau dipukul pelan, bunyinya masih bisa membuat orang tua menoleh dan anak kecil berhenti makan kerupuk.

Di depan kantor kecil dekat simpang, sudah terpasang spanduk besar.

Rapat Pembentukan Balai Payung Budaya
Melestarikan Warisan, Memajukan Peradaban

Bang Saman membaca pelan-pelan. Ia kurang paham kata “peradaban”, tapi ia senang melihat kata “budaya”. Biasanya kalau ada kata itu, rapa’i ikut disebut. Kadang dipanggil tampil. Kadang diminta duduk di belakang. Kadang diminta foto.

Ia naik ke teras kantor.

“Pak, rapat budaya di sini?” tanyanya kepada penjaga pintu.

Penjaga itu melihat daftar hadir.

“Nama siapa?”

“Saman.”

“Saman apa?”

“Orang biasa saja. Tapi kalau di kampung, orang panggil Bang Saman Rapa’i.”

Penjaga pintu membalik halaman daftar hadir. Telunjuknya turun dari atas ke bawah. Lalu naik lagi. Lalu berhenti.

“Nama Abang belum ada.”

Bang Saman mengangguk.

“Kalau rapa’i?”

Penjaga pintu tertawa kecil.

“Rapa’i juga belum ada di daftar, Bang.”

Dari dalam ruangan terdengar suara mikrofon.

“Kita harus memastikan pelaku budaya menjadi pusat perhatian.”

Bang Saman menoleh ke pintu. Kalimat itu terdengar seperti memanggilnya. Tetapi penjaga pintu tetap berdiri di tempatnya.

“Duduk di luar dulu ya, Bang. Nanti saya tanya panitia.”

Di dalam ruangan, Pak Rasyid sudah duduk di kursi depan. Kursinya memakai kain putih. Di depannya ada botol air mineral, map biru, dan papan nama kecil.

Pak Nurdin sibuk memeriksa spanduk kecil untuk foto bersama. Bu Salmah menyiapkan notulen. Si Jamil menjaga daftar hadir seperti menjaga sawah musim panen.

“Agenda pertama,” kata Pak Rasyid, “kita bahas struktur.”

Semua mengangguk.

“Ketua dulu,” kata seseorang.

“Sekretaris juga penting,” sambung yang lain.

“Bendahara jangan lupa,” ujar suara dari belakang.

“Bidang program?”

“Bidang festival?”

“Bidang dokumentasi?”

“Bidang kemitraan?”

Ruang rapat mulai hangat. Bukan karena kopi. Kursi-kursi di dalam ruangan seperti mulai mencari pemiliknya masing-masing.

Di luar, Bang Saman duduk di bangku panjang dekat pot bunga. Ia membuka kantong kainnya. Rapa’i tua itu ia letakkan di pangkuan. Dengan kuku ibu jari, ia meraba tali yang kendur.

Dari dalam, namanya terdengar untuk pertama kali.

“Kita punya banyak maestro seperti Bang Saman,” kata Pak Rasyid. “Mereka harus kita lindungi.”

Bang Saman tersenyum sedikit.

“Masuk, Bang?” tanya penjaga pintu.

“Belum ada panggilan.”

Bang Saman mulai mengikat ulang tali rapa’i. Pelan-pelan. Seperti orang memperbaiki sesuatu yang sudah lama dipakai orang banyak, tetapi jarang ditanya kabarnya.

Di dalam, rapat berlanjut.

Pak Nurdin mengangkat tangan.

“Saya pikir sebelum bicara program, kita perlu bicara logo. Kalau logo kuat, lembaga ini terlihat berwibawa.”

“Betul,” kata seorang peserta. “Warna juga penting. Jangan sampai terlihat biasa.”

“Nama kegiatan perdana?”

“Festival Payung Budaya.”

“Bagus.”

“Siapa yang membuka?”

“Siapa yang memberi sambutan?”

“Siapa yang duduk di depan?”

Bu Salmah menunduk, siap mencatat. Tangannya bergerak cepat. Kalimat-kalimat bagus masuk ke buku. Nama-nama penting masuk ke kolom. Usulan-usulan kecil menunggu giliran.

Dari dalam, nama Bang Saman terdengar untuk kedua kali.

“Kita harus membuat program nyata untuk orang seperti Bang Saman.”

Di luar, orang yang dimaksud sedang meniup debu dari kulit rapa’inya.

Seorang pemuda panitia keluar membawa gelas kopi.

“Bang, ini kopi.”

“Terima kasih.”

“Abang jangan pulang dulu ya. Mungkin nanti dipanggil.”

“Untuk bicara?”

Pemuda itu garuk kepala.

“Belum tahu. Mungkin untuk foto.”

Bang Saman menyeruput kopi. Sudah agak dingin.

Rapat hampir selesai ketika stempel dibawa masuk. Entah kenapa, setiap kali stempel muncul, wajah orang-orang berubah lebih resmi.

Pak Rasyid menekan stempel ke kertas pertama.

Tok.

Semua lega.

Kertas kedua.

Tok.

Kertas ketiga.

Tok.

Di luar, Bang Saman mencoba bunyi rapa’i.

Tung.

Bunyinya kecil. Kalah oleh stempel.

Setelah rapat ditutup, pintu dibuka lebar. Orang-orang keluar sambil merapikan baju. Pak Nurdin membawa spanduk kecil. Si Jamil membawa daftar hadir. Bu Salmah membawa notulen. Pak Rasyid membawa map biru.

“Bang Saman!” panggil seseorang. “Sini, Bang. Kita foto.”

Bang Saman berdiri. Ia mengangkat rapa’i tua itu. Seorang panitia mengarahkannya ke tengah.

“Bang, rapa’inya agak dinaikkan. Biar kelihatan.”

Bang Saman menurut.

“Lebih senyum, Bang.”

Ia tersenyum.

Di belakangnya, spanduk terbentang rapi. Di sampingnya, orang-orang yang tadi bicara tentang budaya berdiri dengan wajah puas.

Sebelum kamera diklik, Pak Rasyid berkata pelan, “Inilah bukti pelaku budaya kita libatkan.”

Nama Bang Saman disebut untuk ketiga kali.

Kamera berbunyi.

Cekrek.

Setelah itu orang-orang masuk kembali mengambil tas, map, dan sisa kue. Bang Saman menurunkan rapa’inya. Belum ada yang bertanya apakah talinya sudah putus. Belum ada yang bertanya apakah muridnya masih ada. Belum ada yang bertanya apakah ia punya ongkos pulang.

Ia berjalan ke warung kopi depan kantor.

Pemilik warung bertanya, “Bagaimana rapatnya, Bang?”

Bang Saman duduk pelan.

“Bagus,” katanya. “Rapa’i saya masuk foto.”

“Abang masuk rapat?”

Bang Saman menatap rapa’i di pangkuannya.

“Belum perlu. Mungkin budaya hari ini cukup dilestarikan dari luar pintu.”

BACA JUGA:  Melalui Ilusi Waktu