Nama Acara Tradisi Aceh

Spanduk itu datang pagi-pagi sekali.

Dua pemuda membawanya dari mobil pikap, lalu membentangkannya di halaman balai gampong. Huruf-hurufnya besar, mengilap, dan berwarna emas.

ACEH HERITAGE CULTURE FESTIVAL

Di bawahnya, lebih kecil sedikit, tertulis: Celebrating Local Wisdom Through Global Harmony.

Bang Saman datang membawa rapa’i tua dalam sarung kain. Ia berhenti dekat tiang tenda, mengangkat kepala, lalu membaca pelan-pelan.

“Herit… heritej…” katanya.

Anak-anak yang sedang menyusun kursi plastik ikut mendekat.

“Bang, itu acara apa?” tanya Mijan, anak kelas lima yang hafal beberapa lagu seudati dari kakeknya.

Bang Saman memandang spanduk lagi.

“Entah. Mungkin acara kita juga.”

Mijan membaca bagian bawah dengan suara lebih keras.

“Selebrating… lokal wisdem…”

Dari meja panitia, Pak Nurdin mengangkat tangan.

“Bacanya jangan dipecah-pecah. Itu nama resmi acara.”

“Nama resminya apa, Pak?” tanya Mijan.

Pak Nurdin merapikan lencana di dadanya. “Aceh Heritage Culture Festival.”

Mijan mengangguk seolah mengerti. Lalu ia berlari ke belakang tenda, menemui Nek Biah yang sedang melipat kain hitam untuk penari.

“Nek, malam ini ada acara heritej.”

Nek Biah berhenti melipat.

“Acara apa?”

“Heritej. Kata Pak Nurdin, nama resminya begitu.”

Nek Biah menatap halaman balai. Di sana, beberapa pemuda sedang menggantung lampu warna-warni. Di bawah tenda, rapa’i, serune kalee, dan sepasang canang diletakkan berdekatan dengan speaker besar.

“Dulu,” kata Nek Biah sambil melanjutkan lipatannya, “kalau seudati datang ke kampung sebelah, orang bilang seudati tunang.”

“Tunangan?”

“Bukan tunangan orang kawin.” Nek Biah tersenyum. “Tunang. Orang datang membawa permainan, suara, syair, dan harga diri. Kampung yang menyambut pun sudah tahu: malam ini ada yang datang menguji rasa.”

Menjelang magrib, tamu mulai berdatangan. Sebagian berhenti di depan spanduk, lalu bertanya kepada penjaga parkir.

“Acara seudati di sini?”

Penjaga parkir melihat daftar di tangannya.

“Yang ada Aceh Heritage Culture Festival, Pak.”

“Ya, itu tadi. Seudatinya di mana?”

Penjaga parkir menoleh ke panggung. “Mungkin sesudah pembukaan.”

Di panggung, Pak Nurdin sedang mencoba mikrofon.

“Selamat datang dalam Aceh Heritage Culture Festival,” katanya. “Malam ini kita menunjukkan kepada dunia bahwa budaya lokal memiliki nilai global.”

Suara tepuk tangan datang dari kursi depan.

Bang Saman duduk di belakang panggung. Rapa’inya di pangkuan. Mijan duduk di sebelahnya sambil memegang kertas susunan acara.

“Bang,” katanya, “di sini tertulis traditional performance.”

Bang Saman menggeser rapa’inya sedikit.

“Itu seudati?”

“Mungkin.”

“Itu rapa’i?”

“Mungkin.”

“Itu hikayat?”

Bang Saman memandang panggung yang mulai terang.

“Mungkin semua jadi satu kalau sudah masuk kertas.”

Saat giliran mereka tiba, Bang Saman dan kawan-kawannya naik ke panggung. Rapa’i dipukul perlahan. Bunyi pertama menyebar ke halaman balai, memantul pada pagar sekolah, lalu masuk ke warung kopi di seberang jalan.

Beberapa orang tua yang sedang minum kopi berdiri.

“Itu seudati tunang,” kata seorang lelaki sambil merapikan pecinya.

Ia berjalan ke arah balai. Yang lain ikut di belakangnya.

Di depan panggung, Mijan memandang spanduk besar itu sekali lagi. Angin malam membuat bagian tengahnya terlipat. Kata Heritage tertutup di belakang tiang tenda.

Yang masih terlihat jelas hanya satu kata:

ACEH

BACA JUGA:  Abang Garang Berlidah Pendek