Foto di Bawah Spanduk

Papan nama Rumah Seni Pucok Rumbia sudah kusam sejak hujan besar bulan lalu. Huruf S pada kata Seni tinggal separuh. Dari jauh, orang bisa membacanya sebagai Rumah Eni.

Pagi itu, Bang Kadir datang membawa tiga gelas kopi plastik dan sebuah kabar.

“Jam dua ada diskusi,” katanya sambil meletakkan kopi di meja panjang.

Cut Marni, pelukis yang sedang membersihkan kuas di sudut ruangan, menoleh.

“Diskusi apa lagi?”

“Katanya soal karya kita. Ada orang mau datang.”

Bang Rauf, pemain rapa’i yang sedang mengganti kulit rapa’i, berhenti menarik tali.

“Orang dari mana?”

“Entah. Bang Hadi yang atur.”

Bang Hadi memang sering muncul di Rumah Seni Pucok Rumbia. Ia bukan pemain musik, bukan pelukis, bukan penari, bukan pula penulis hikayat. Ia dikenal sebagai penghubung acara. Ia tahu siapa yang sedang datang ke kota, siapa yang sedang suka bertemu kelompok seni, dan siapa yang perlu diajak duduk ketika ada kamera.

Ia juga paling rajin mengirim poster ke grup.

Jam dua kurang sedikit, Bang Hadi muncul bersama seorang lelaki yang belum pernah dilihat Bang Rauf di ruang latihan itu. Lelaki itu membawa map tipis di bawah lengannya. Bajunya rapi. Sepatunya masih mengilap.

Bang Hadi menepuk tangan.

“Ini kesempatan bagus. Kita dengar langsung jalan baru untuk kawan-kawan seni.”

Lelaki pembawa map duduk di kursi paling ujung. Kursi itu biasanya dipakai Nek Biah bila datang membawa buku syair lama. Hari itu Nek Biah tidak mendapat kabar.

Di atas meja, Bang Hadi sudah membentangkan spanduk kecil.

OBROLAN TENTANG MASA DEPAN KARYA DAERAH

Hurufnya besar. Di sudut paling bawah ada lambang kecil yang masih tertutup lipatan kain.

Lelaki pembawa map mulai bicara.

Ia bicara tentang karya yang harus bergerak lebih jauh. Ia bicara tentang anak muda yang perlu keluar dari lingkaran kecil. Ia bicara tentang jaringan, pintu-pintu baru, dan orang-orang yang dapat saling membantu.

Bang Kadir mengangguk paling cepat.

Cut Marni menaruh kuas di gelas bekas air mineral.

Bang Rauf memperhatikan tali rapa’inya.

“Jadi,” kata lelaki itu, “kawan-kawan seni perlu membangun hubungan. Jangan jalan sendiri-sendiri. Kita harus punya banyak orang yang mau membuka pintu.”

“Pintu mana, Bang?” tanya Bang Rauf.

Lelaki itu tersenyum.

“Pintu yang lebih luas.”

Bang Rauf menunggu kalimat berikutnya.

Lelaki itu lalu bicara tentang semangat.

“Yang penting jangan berhenti bergerak. Soal yang lain bisa menyusul.”

Cut Marni menyandarkan punggung ke dinding.

“Listrik ruang latihan ini juga sedang menunggu sesuatu menyusul.”

Bang Hadi tertawa lebih dahulu.

“Bu Cut ini kalau ada orang bicara masa depan, dia cari meteran.”

Beberapa orang ikut tersenyum. Bang Rauf tidak.

Lelaki pembawa map terus bicara. Ia menyebut kerja bersama, kesempatan, anak muda, kemajuan, jaringan, dan masa depan. Kata-kata itu keluar satu-satu seperti nasi kotak dari mobil panitia: cukup banyak, cukup rapi, dan belum tentu hangat saat sampai ke tangan orang.

Di sisi lain meja, seorang pemuda bernama Jali duduk diam. Ia baru dua kali ikut latihan teater. Ia datang karena Bang Hadi menulis di grup: semua kawan seni sebaiknya hadir.

Jali memperhatikan spanduk di dinding.

Lambang kecil di bawahnya masih tertutup lipatan.

Saat diskusi hampir selesai, Bang Hadi berdiri.

“Sekarang foto bersama dulu. Biar masyarakat tahu Rumah Seni Pucok Rumbia sudah mulai bergerak.”

“Foto untuk apa?” tanya Jali.

“Dokumentasi.”

“Dokumentasi siapa?”

Bang Hadi memandang Jali seperti melihat kabel sound yang kusut.

“Dokumentasi kegiatan, lah.”

Kursi-kursi digeser. Spanduk dirapikan. Bang Hadi menarik ujung kainnya supaya lurus. Lipatan di bawah terbuka sedikit. Lambang kecil itu tampak lebih jelas.

Bang Rauf melihatnya.

“Itu lambang apa?”

Bang Hadi masih sibuk mengatur posisi.

“Lambang kawan-kawan yang ikut membantu acara.”

“Membantu apa?”

“Membantu membuka jalan.”

Bang Rauf memegang rapa’inya lebih erat.

Cut Marni sudah berdiri di baris belakang. Bang Hadi menyuruhnya maju.

“Pelukis harus di depan. Biar kelihatan lengkap.”

“Lengkap untuk siapa?” kata Cut Marni.

Bang Hadi tidak menjawab. Ia mengangkat ponsel.

Lelaki pembawa map berdiri di tengah. Bang Hadi berdiri di sebelahnya. Bang Kadir membawa kertas catatan. Jali di ujung, separuh wajahnya tertutup kepala orang lain.

“Senyum, kawan-kawan. Kita tunjukkan seniman siap melangkah.”

Klik.

Bang Hadi memeriksa hasilnya.

“Bagus. Sekali lagi. Tangan sedikit ke depan.”

Klik.

Setelah itu, ia langsung mengetik sesuatu di ponselnya. Jempolnya bergerak cepat. Lelaki pembawa map pamit lebih dahulu. Sebelum masuk mobil, ia menyalami Bang Hadi cukup lama.

Menjelang magrib, Jali membuka sebuah akun kabar kota.

Di layar ponselnya muncul foto mereka.

Bang Hadi berdiri paling depan. Lelaki pembawa map tersenyum di tengah. Lambang kecil di spanduk terlihat jelas. Rumah Seni Pucok Rumbia tampak di belakang, dengan huruf S yang hilang dari papan namanya.

Judulnya berbunyi:

Rumah Seni Pucok Rumbia Siap Berjalan Bersama Menyambut Gerakan Baru Daerah

Jali membaca pelan-pelan.

Di dalam berita itu tertulis bahwa para seniman menyambut arah baru. Disebutkan pula bahwa mereka siap ikut membangun jalan bersama bagi masa depan daerah.

Nama Bang Rauf ada.

Nama Cut Marni ada.

Nama Bang Kadir ada.

Nama Nek Biah tidak ada.

Tidak ada cerita tentang listrik ruang latihan yang menunggak. Tidak ada kulit rapa’i yang robek. Tidak ada kuas Cut Marni yang dibelinya sedikit-sedikit dari hasil mengecat papan warung.

Bang Rauf datang membawa kopi.

“Berita apa?”

Jali menyodorkan ponsel.

Bang Rauf membaca sampai selesai. Ia memandangi foto itu cukup lama.

“Besok orang kira kita sudah ikut ke mana-mana,” kata Jali.

Bang Rauf mengangguk pelan.

“Kita cuma duduk di sini.”

Ia membawa rapa’inya ke pintu. Angin sore membuat spanduk di dalam ruangan bergerak-gerak.

Lambang kecil di sudut bawahnya masih terbuka.

BACA JUGA:  Tuan Pembual | Cerpen oleh Saiful Bahri